Kuansing (Inmas), Setelah penyampaian tausiyah oleh Kasi Bimas Islam pada kegiatan Pembinaan Mental dan Rohani Pegawai di Musholla Al-Ikhlas Kemenag Kuansing pada hari Jum'at (25/01/2019), sesi berikutnya diisi dengan pengarahan dan pembinaan yang disampaikan langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten Kuantan Singingi Drs. H. Jisman, MA.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pegawai kantor Kemenag Kuansing, dan seluruh pegawai beserta penyuluh KUA kecamatan Kuantan Tengah.
Dalam arahannya Kakankemenag mengajak semua pegawai agar lebih mengutamakan sholat daripada pekerjaan. Maksudnya, bila waktu sholat telah tiba maka hentikan semua pekerjaan dan kerjakanlah sholat.
"Jangan sampai waktu sholat telah tiba kita masih sibuk dengan pekerjaan, jangan remehkan sholat apalagi sampai meninggalkannya, naudzubillahi min dzalik. Orang yang banyak amal sosialnya tapi kalau tidak sholat, maka seluruh amalnya tidak akan ada nilainya dihadapan Allah," jelas Kakankemenag.
Pada materi pembinaan Kakankemenag menyampaikan sebuah cerita, yang kisahnya lebih kurang sebagai berikut:
Di zaman Imam Syafi'i hidup ada seorang pegawai atau karyawan yang datang kepada sang imam untuk mengadukan kesusahan hidupnya. Pegawai tadi mengeluhkan hidupnya yang terasa susah akhir-akhir ini. Setelah mendengar keluhannya, sang imam pun bertanya kepada pegawai tadi. "Berapa upah yang engkau terima dari pekerjaanmu?".
Pegawai tadi pun menjawab, "Saya menerima upah 4 dinar setiap bulannya".
"Kalau begitu temuilah majikanmu, kemudian mintalah upahmu dikurangi menjadi 3 dinar," usul sang Imam kemudian.
Mendengar ucapan sang imam pegawai tersebut kaget bercampur heran. "Bagaimana mungkin gajiku dikurangi, sedangkan 4 dinar saja terasa kurang apalagi 3 dinar," ucapnya di dalam hati. Namun karena ini adalah ucapan imam besar, maka ia pun menurutinya. Ia menemui majikannya, dan akhirnya upahnya pun dikurangi.
Setelah berjalan beberapa waktu, ia pun kembali merasa hidupnya masih belum berubah, bahkan jauh lebih susah dari sebelumnya. Ia pun kembali menghadap kepada Imam Syafi'i, dan menceritakan bahwa hidupnya masih juga terasa susah.
Kali ini jawaban sang imam membuatnya semakin bertambah bingung, imam Syafi'i menyuruhnya kembali menemui majikannya dan meminta pengurangan upah menjadi 2 dinar. Saran ini pun akhirnya ia turuti, meskipun pikirannya berkecamuk tidak menentu.
Setelah upahnya dikurangi menjadi 2 dinar, pegawai tadi merasa hidupnya mulai ada perubahan. Ia merasakan suatu ketenangan yang luar biasa, karena saat ini hidupnya lebih banyak digunakan untuk beribadah. Ia banyak meninggalkan perbuatan yang biasa dilakukannya selama ini. Ternyata saat penghasilannya masih 4 dinar, dia sering menghabiskan hartanya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, pergi pelesiran, membeli barang yang tidak perlu, dan lain sebagainya.
Pegawai tadi pun kembali menemui imam Syafi'i untuk menceritakan hidupnya yang sekarang lebih baik. Imam Syafi'i pun berkata kepadanya, "Keberkahan rezeki itu lebih utama daripada jumlahnya".
Pegawai itu pun menyadari, selama ini dengan gaji 4 dinar mungkin ia belum pantas untuk menerimanya, karena jika dinilai dengan pekerjaan yang dilakukannya masih belum sebanding dengan upah yang diterimanya, sehingga menghilangkan keberkahannya. (N/R)
Arahan Kakankemenag Kuansing pada Kegiatan Pembinaan Mental dan Rohani Pegawai
Ringkasan:
Kuansing (Inmas), Setelah penyampaian tausiyah oleh Kasi Bimas Islam pada kegiatan Pembinaan Mental dan Rohani Pegawai di Musholla Al-Ikhlas Kemenag Kuansing pada hari Jum'at (25/01/2019), sesi berikutnya diisi dengan pengarahan dan pembinaan yang disampaikan langsung oleh Kepala Kantor Kementerian...