0 menit baca 0 %

Aparatur Kanwil Kemenag Riau Terima Anugerah Raja Ali Haji Award

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas) – Kehamilan panjang peradaban yang kita tunggu-tunggu, kita nanti-nanti, yang hendak kita jemput selama ini ternyata hanya melahirkan generasi-generasi yang cacat… ya, dunia politik kita, dunia kebudayaan dan kesenian, dunia kampus, dunia media, dunia sosial-ekonomi, d...

Pekanbaru (Inmas) – Kehamilan panjang peradaban yang kita tunggu-tunggu, kita nanti-nanti, yang hendak kita jemput selama ini ternyata hanya melahirkan generasi-generasi yang cacat… ya, dunia politik kita, dunia kebudayaan dan kesenian, dunia kampus, dunia media, dunia sosial-ekonomi, dunia birokrasi pemerintahan, dunia keagamaan; dunia kreatifitas macam-macam kita di Riau hari ini; semuanya semakin kerut-merut; semakin penuh cacat-cela sahaja. Ternyata kegemilangan peradaban yang kita nanti-nanti, yang diperjuangkan sekian masa secara mati-matian selama ini hanya berona seperti cahaya bulan jatuh ke air ketika pagi merekah. 

Demikian salah-satu poin penting disampaikan Griven H Putera yang merupakan Aparatur Kanwil Kemenag Riau saat membacakan orasinya ketika menerima Anugerah Raja Ali Haji Award di Gedung PKM UIN Suska Riau, Sabtu malam (4/6).

Lebih lanjut Griven sampaikan, padahal, jika nirwana ada di hamparan bumi ini, maka di sinilah, di sinilah, di tanah Melayu inilah tempatnya. Tapi kini, ‘ammah umat Melayu di kampung-kampung, di pelosok dusun nun jauh, pun di sini, bahkan di ibukota provinsi ini, orang-orang berbebat bak barau, berumpun bak serai,  mereka mungkin asyik menyanyikan puisi, “di atas makam kami yang miskin, tak ada nyala lilin, tak ada kuntum bunga, tak ada rayap yang membakar sayapnya, dan tak ada nandung burung bulbul.” Oleh karena hidup hanya sekali, maka hiduplah secara berarti, setelah itu, kalau mau wafat, mangkatlah secara terhormat, dengan meninggalkan kado yang indah, dan jejak yang mengagumkan bagi generasi masa depan, kata Griven. 

Pada kesempatan itu, Rektor UIN Suska Riau, Prof Dr H Munzir Hitamy MA dalam sambutannya menyambut baik apa yang dilakukan Gerakan Masa Depan Indonesia (GMDI) Riau dan UIN Suska Mengajar yang telah menaja kegiatan ini. Menurut Munzir, tidak jarang ketajaman mata pena dapat mengalahkan mata pedang berkilat di medan perang. Selain itu, ia berharap di kampus digalakkan dunia diskusi sebagai salah-satu bentuk mengasah daya kritis mahasiswa, agar mahasiswa sebagai agent of social change benar-benar terwujud.

Sementara itu, ketua umum GMDI Riau, DR. Elviriadi, Msi menyampaikan bahwa gelar ini diberikan untuk mengenang jasa-jasa tokoh Riau dalam memperjuangkan Melayu dalam arti sesungguhnya. Juga mengimbangi pemberian gelar yang bersifat politis, seremonial dan kepentingan materi jangka pendek. Semoga Allah Swt meridhai dunia Melayu. 

Pada malam itu GMDI dan UIN Suska mengajar menganugerahkan Datuk Panglima Pengawal Negeri bagi Anas Aisma yang dipandang telah berjuang bagi masyarakat Melayu secara ril di lapangan selama ini. Selain itu juga diserahkan Raja Ali Haji Award kepada Griven H Putera karena telah berjuang untuk Melayu dan Islam dalam karya-karyanya baik yang terbit di Riau maupun nasional. Anugerah pendidikan juga disematkan kepada Pak Tak Tung, salah seorang tokoh Talang Mamak yang telah mendidik anak Talang Mamak dengan hati nurani tanpa pamrih.

Hadir pada kegiatan yang dinominasi mahasiswa tersebut, Rektor UIN Suska Riau, Pendiri GMDI Riau, Ketua Umum dan pendiri GMDI Riau, Pimpinan Pondok M2IQ Riau, dan sastrawan Riau Suharyoto Suwignyo yang tampil  membacakan beberapa puisinya, serta ketua panitia Ade Putra Daulay dan sejumlah seniman dari Kabupaten Kampar.  (g)