0 menit baca 0 %

Antisipasi Konflik Keagamaan, Kemenag Gelar Koordinasi dengan Instansi Terkait

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas)- Akhir akhir ini aliran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam dan akidah Ahli Sunnah wal Jamaah kerap bermunculan. Berbagai madzhab dan aliran impor dari luar negeri masuk ke Indonesia seiring dengan derasnya arus informasi dan globalisasi.

Pekanbaru (Inmas)- Akhir akhir ini aliran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam dan akidah Ahli Sunnah wal Jamaah kerap bermunculan. Berbagai madzhab dan aliran impor dari luar negeri masuk ke Indonesia seiring dengan derasnya arus informasi dan globalisasi. Menyikapi hal tersebut Subbag Hukum dan Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Provinsi Riau melakukan koordinasi dengan intansi terkait, Jumat (12/2) di Aula Mini Kemenag Riau.

Rapat yang bertajuk Koordinasi Antisipasi Potensi Konflik Kerukunan Umat Beragama di Provinsi Riau tersebut, dipimpin langsung oleh Kakanwil Kemenag Riau Drs H Tarmizi Tohor MA, dengan dihadiri oleh Kabag TU Kanwil Kemenag Riau HM Saman S Sos M Si, Kejaksaan Tinggi Riau, Gaos Wicaksono SH MH, Kepala Badan Kesbangpol, Drs Ardi Basuki M Si, FKUB Provinsi Riau Abdul Rahman, Sekum MUI Riau Zulhusni Domo dan pejabat di lingkungan Kemenag Riau.

Tarmizi mengatakan, aliran- aliran sempalan baik yang mengaku dirinya agama atau sekedar organisasi maskin marak di masyarakat. Hamper setiap hari ada saja aliran yang lahir dengan mengaku dirinya sebagai nabi dan sebagainya. Saat ini, beberapa aliran yang menonjol yaitu Syiah, Gafatar, Salafi Wahabi dan baha’i.

“Untuk itu kita menghimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memperdalam ilmu agamanya, sehingga tidak mudah terkontaminasi dan terpengaruh dengan ajaran- ajaran baru yang terus merongrong masyarakat,” harapnya.

Terkait dengan Gafatar, kata Tarmizi, sejauh ini Kementerian Agama belum bisa memutuskan apakah Gafatar adalah aliran sesat atau bukan, karena sampai saat ini MUI belum mengeluarkan fatwanya. Untuk itu ia berharap agar MUI segera bertindak cepat untuk memastikan hal tersebut, agar masyarakat tidak diresahkan oleh aktifitas yang dinilai bertentangan dengan ajaran Islam yang sesunggunya.

Terhadap eks Gafatar yang sudah dikembalikan ke Riau, Tarmizi mengatakan, hendaknya dilakukan pendekatan dan pembinaan secara khusus agar bisa diterima kelmbali oleh masyarakat. Karena ia melihat ada keganjilan pada sosok eks gafatar yang bertindak dan berprilaku diluar batas kemanusian, seperti rela meninggalkan keluarga demi mengikuti system ketahanan pangan di Kalimantan.

Ditambahkan Kepala Badan Kesbangpol, Drs Ardi Basuki M Si, pihaknya telah melakukan pembinaan kepada 50 orang mantan Gafatar yang beberapa waktu lalu dipulangkan dari Jakarta. Namun demikian sampai saat mantan pengikut Gafatar belum dapat disadarkan secara penuh.

“Kita tidak tahu apakah pengikut gafatar ini sudah terhipnotis atau sudah dicuci otaknya, karena sebagian mereka sudah dirubah cara berpikirnya sehingga apa yang mereka peroleh itu sudah benar menurut mereka,” jelasnya. (mus)