Bengkalis (inmas)- Datang Disambut Bahagia, Pergi Diiringi Tangis”
Saat ini kita sudah berada di penghujung Ramadan. Tinggal hitungan hari lagi tamu agung yang membawa sejuta rahmat dan barakah, beribu-ribu kebaikan dan pahala akan berlalu meninggalkan kita. Orang-orang yang tahu hakekat Ramadan, mereka sudah tentu akan bersedih beda halnya terdahulu mereka bahagia disaat menyambut kedatangannya. Mereka besedih dan biasanya diiringi tangis karena mereka khawatir tidak akan bertemu lagi dengan tamu agung ini pada tahun mendatang. Terselip harapan di lubuk hati mereka kalau bisa setiap tahun adalah Ramadan. Tapi itu mustahil karena Ramadan hanya ada sekali saja dalam setahun.
Inilah hakekat kehidupan yang tak bisa dinafikan. Ada yang datang dan adapula yang pergi. Ada pertemuan dan adapula perpisahan, dan ada kehidupan dan adapula kematian. Hakekat kehidupan ini seharusnya membuat setiap manusia sadar diri dan menjalankan peran terbaiknya di atas dunia ini baik sebagai hamba Allah swt maupun sebagai khalifah di bumi. Sebaik-baik manusia adalah orang yang kehadirannya disambut dengan senyum dan kebahagiaan dan disesali (ditangisi) kepergiannya. Seburuk-buruk manusia adalah orang yang disesali keberadaannya dan disenangi ketiadaannya.
Ramadan dengan segala keutaman dan kebajikan yang ada di dalamnya hanya sebatas fasilitas dari Allah swt yang disediakan bagi manusia agar mereka berusaha menjadi hamba Allah swt baik dan taat. Ketika Ramadan berlalu, diharapkan kebaikan dan ketaatan itu bisa bersifat permanen dalam diri manusia pada sebelas bulan berikutnya. Inilah sebenarnya perjuangan yang amat berat. Karena tidak sedikit orang yang tidak bisa istiqamah dalam kebaikan dan ketaatan setelah Ramadan pergi meninggalkan mereka.
Menangisi kepergian Ramadan adalah suatu yang wajar dan tanda hati yang lembut tapi yang jauh lebih penting sebenarnya bagaimana kita bisa membangun komitmen untuk tetap konsisten mempertahankan semangat dan ketaatan yang kita jalani selama berada di bulan Ramadan tersebut pada sebelas bulan berikutnya. Ramadan harus memberikan bekas dan pengaruh pada diri kita pada bulan-bulan di luar Ramadan. Jangan sampai Ramadan tidak berbekas pada diri kita. Kalau Ramadan tidak berbekas, itu artinya kita gagal ditraining Ramadan.
Ramadan pada dasarnya tidak berlebihan bila dikatakan sebagai bulan pelatihan (Syahr al-Tarbiyah). Melatih kita untuk bisa mengendalikan hawa nafsu, mendidik kita menjadi agar manusia yang patuh kepada rab-nya, mentraining kita agar menjadi manusia yang bagus budi pekertinya, membina kita agar menjadi manusia yang peduli dan penuh perhatian terhadap sesama. Sejauhmana bulan Ramadan itu berhasil melatih seseorang, bisa dilihat dari perubahan prilaku (taghoyyur al-Suluk) yang terjadi setelah Ramadan berlalu. Apakah setelah Ramadan nanti, ia tetap konsisten mengendalikan hawa nafsunya, konsisten dalam ketaatan kepada rabnya, konsisten dalam berbudi pekerti yang baik, konsisten dalam kepedulian dan perhatiannya terhadap sesama. Jikalau konsistensi dalam bersikap dan berprilaku itu ada pada diri seseorang, berarti ia sukses dilatih oleh Ramadan. Akan tetapi bila sebaliknya setelah Ramadan pergi meninggalkannya, nafsunya semakin liar dan nakal, ia bersikap durhaka kepada Tuhannya, sikap dan prilakunya semakin buruk, dan tidak peduli terhadap lingkungannya, itu artinya ia gagal dilatih oleh Ramadan.
Bulan Ramadan mengingatkan kita agar selalu berpegang teguh dan menegakkan agama dalam kehidupan sehari-hari kita. Beragama itu tidak sebatas musiman, beragama itu bukan tergantung keadaan, beragama itu bukan karena ikut-ikutan tapi beragama itu sepanjang waktu, dalam setiap keadaan. Agamalah yang menjadi penyeimbang bagi kita dalam menghadapi kehidupan duniawiy yang penuh dengan tipu daya dan fatamorgana. Agamalah yang akan menolong kita di saat kita berada dalam kesulitan dan masalah dan agamalah yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak dari siksaan api neraka yang sangat pedih. Wallah A’lam. (ana)