0 menit baca 0 %

Amrizal : Memaknai Bulan Syawal

Ringkasan: Bengkalis (Inmas)- Jumat kali ini kita berada di Bulan Syawal 1438 H dimana kita telah merayakan Idul Fitrah lebih kurang satu pekan setelah berpuasa selama satu bulan penuh di Bulan Ramadan. Idul Fitrah secara bahasa berarti kembali kepada Fitrah, yaitu suatu keadaan bersih secara ruhaniah yang con...
Bengkalis (Inmas)- Jumat kali ini kita berada di Bulan Syawal 1438 H dimana kita telah merayakan Idul Fitrah lebih kurang satu pekan setelah berpuasa selama satu bulan penuh di Bulan Ramadan. Idul Fitrah secara bahasa berarti kembali kepada Fitrah, yaitu suatu keadaan bersih secara ruhaniah yang condong kepada Tuhan, condong kepada kebajikan dan kebenaran. Keadaan seperti itu dahulunya pernah kita alami di saat kita terlahir ke atas dunia ini. akan tetapi seiring dengan perkembangan waktu dan pertambahan usia dari anak-anak menjadi remaja, dari remaja menjadi dewasa dan dari dewasa menjadi orang tua. Kondisi kefitrahan tersebut menjadi ternodai dikarenakan perbuatan dosa dan kejahatan yang dilakukan secara berulang-ulang baik disengaja maupun tidak disengaja.

Berkat kesungguhan (ketaatan) dan keikhlasan dalam beribadah dan beramal selama bulan suci Ramadan, kita kembali meraih kefitrahan itu sehingga kita menjadi sosok manusia yang suci secara batiniah. Tugas penting kita selanjutnya adalah mempertahankan nilai-nilai kesungguhan (ketaatan) dan keikhlasan dalam beribadah dan beramal selama bulan Ramadan tersebut pada diri pribadi kita setelah Ramadan berlalu meninggalkan kita. Kalaupun tidak bisa seratus persen minimal lima puluh persen saja sesuai dengan kemampuan kita terutama sekali perkara-perkara yang diwajibkan oleh agama atas kita. Inilah sebenarnya perjuangan yang amat berat. Kalau pada Bulan Ramadan, situasi dan suasananya sangat kondusif dan mendukung untuk kita mendekatkan kepada Allah swt karena memang bulan Ramadan adalah bulan yang diberkati Allah swt dan syetan dibelenggu di dalamnya. Akan tetapi setelah Ramadan berakhir suasanan (kondisi) tersebut bisa dikatakan sudah tidak terasa lagi.

Kalau selama bulan Ramadan, kita sangat semangat dan antusias dalam beribadah, setelah Ramadan berakhir, semangat itu sangat sampai berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Kalau selama bulan Ramadan kita mampu mengendalikan hawa nafsu kita, setelah Ramadan berlalu, jangan sampai nafsu kita semakin liar dan tak terkendali. Idealnya sesuai dengan maknanya secara bahasa, bulan Syawal ini harus ada peningkatan bukan sebaliknya penurunan.

Bila semangat tersebut sampai hilang sama sekali dan nafsu kita semakin liar pada bulan-bulan setelah Ramadan, itu artinya kita mengalami kebangkrutan secara ruhaniah. “Berapa banyak orang yang berpuasa, ia tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga”.

Ramadan pada dasarnya tidak berlebihan bila dikatakan sebagai bulan pendidikan (Syahr al-Tarbiyah). Mendidik manusia untuk bisa mengendalikan hawa nafsu, mendidiknya agar manusia yang patuh kepada Rab-nya, melatihnya agar menjadi manusia yang bagus budi pekertinya, membinanya agar menjadi manusia yang peduli dan penuh perhatian terhadap sesama. Sejauhmana bulan Ramadan itu berhasil melatih seseorang, bisa dilihat dari perubahan prilaku (taghoyyur al-Suluk) yang terjadi pada diri seseorang setelah Ramadan berlalu. Apakah setelah Ramadan nanti, ia tetap konsisten mengendalikan hawa nafsunya, konsisten dalam ketaatan kepada rabnya, konsisten dalam berbudi pekerti yang baik, konsisten dalam kepedulian dan perhatiannya terhadap sesama. Jikalau konsistensi dalam bersikap dan berprilaku itu ada pada diri seseorang, berarti ia sukses dilatih oleh Ramadan. Akan tetapi bila sebaliknya setelah Ramadan pergi meninggalkannya, nafsunya semakin liar dan nakal, ia bersikap durhaka kepada Tuhannya, sikap dan prilakunya semakin buruk, dan tidak peduli terhadap lingkungannya, itu artinya ia gagal dilatih oleh Ramadan.

Bulan Ramadan mengingatkan kita agar selalu berpegang teguh dan menegakkan agama dalam kehidupan sehari-hari kita. Beragama itu tidak sebatas musiman, beragama itu bukan tergantung keadaan, beragama itu bukan karena ikut-ikutan tapi beragama itu sepanjang waktu, dalam setiap keadaan dan dimana saja kita berada. Agamalah yang menjadi kekuatan penyeimbang bagi kita dalam menghadapi kehidupan duniawiy yang penuh dengan tipu daya dan fatamorgana. Agamalah yang akan menolong kita di saat kita berada dalam kesulitan dan masalah dan agamalah yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak dari siksaan api neraka yang sangat pedih. Itulah sebabnya Allah swt memerintahkan kita untuk selalu berpegang teguh pada ajaran agama dalam hidup dan kehidupan ini: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (Q.S. Fushilat: 30)

Agama merupakan kebutuhan fundamental manusia sepanjang waktu dan dimanapun manusia itu berada. Agama hanya akan memberikan pengaruh terhadap manusia apabila manusia itu mengamalkan ajaran agama itu dalam kehidupan sehari-hari dan istiqamah dengannya. Semoga kita bisa mempertahankan nilai-nilai positif yang kita dapatkan selama bulan Ramadan ketika Ramadan sudah berlalu meninggalkan kita. (ana/am)