Palembang (Inmas) – Menteri Agama RI, Lukman Hakim Syaifudin sampaikan bahwa Aksioma, KSM dan LKTI sangat special karena bersempena dengan peringatan hari anak nasional . Menurut Menag, salah satu makna penting dari peringatan hari anak nasional adalah bahwa seluruh lapisan masyarakat lebih peduli pada hak-hak pendidikan anak, kasih sayang dan keteladanan.
Hal itu disampaikan Menteri Agama RI saat membuka secara resmi Aksioma (Ajang Kompetisi Seni olahraga Madrasah) dan KSM (Kompetisi Sains Madrasah) serta LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) di Gedung Olahraga Palembang Sport Convention Centre Sumatera Selatan (Sumsel), Senin Malam (3/8).
“Ada nasehat bijak mengatakan, bila anak dibesarkan dengan emosi maka dia belajar berkelahi. Bila anak dibesarkan dengan caci maki maka dia belajar rendah diri. Bila anak dibesarkan dengan motivasi maka dia belajar percaya diri, dan bila anak itu dibesarkan dengan kasih sayang sepenuh hati maka dia belajar menemukan cinta kasih sejati,” kata Menag.
Menurut Menag lagi, penyelenggaraan Aksioma, KSM dan LKTI merupakan ajang staregis dalam konteks pendidikan lingkungan keluarga dalam rangka menyiapkan anak-anak Indonesia yang unggul dan beriman-bertakwa kepada Allah Swt. sehat jasamani rohani, cerdas dan berprestasi, dengan menjunjung tinggi kejujuran dan integritas serta berakhlak mulia. Hal ini membuktikan bahwa eksistensi madrasah tidak bisa diabaikan dalam konteks pembangunan bangsa Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang sehat dan sportif melalui seni, olahraga dan kegiatan positif lainnya.
Melalui momentum Aksioma, KSM dan LKTI ini Menag berpesan dan berharap agar, pertama bertanding dan berlomba secara sportif. Menjunjung tinggi sportifitas. Tidak sombong atas kemenangan. Akui kekalahan dengan berlapang dada. Dan yang lebih penting lagi, agar nilai-nilai spotifitas, kompetisi dan kejujuran tersebut dapat ditransformasikan dan diterapkan dalam kehidupan pribadi, madrasah, keluarga, dan masrakat luas pada masa sekarang dan akan datang. Kedua, ajang ini tidak hanya bertanding saja tapi digunakan sebagai ajang silaturahim dan komunikasi antar siswa seluruh tanah air. Ketiga, kepada Kepala Madrasah dan guru, untuk mengaktifkan kembali kelompok-kelompok studi bagi siswa-siswi seperti sains club, study club dan kelompok studi lainnya. Selain itu juga diminta mengaktifkan kegiatan ekstra kurikuler, baik dalam bidang olahraga dan seni dalam rangka penanaman dan pembentukan karakter anak didik yang sportif dan jujur sejak dini.
Keempat, tanamkan pada diri siswa-siswi untuk bangga menjadi siswa madrasah. Tunjukkan kepada masyarakat bahwa siswa-siswi madrasah tidak hanya menguasai bidang agama saja tetapi juga mampu berprestasi dalam bidang sains, olahraga dan seni.
“Melalui momentum ini saya berharap akan muncul kader-kader intelektual dan ilmuan yang islami. Dan dari even ini juga diharapkan akan muncul atlit dan seniman nasional yang berlatar belakang pendidikan madrasah. Dengan demikian, hal itu tidak hanya dapat mengharumkan nama madrasah tapi juga nama bangsa dan Negara Indonesua yang kita cintai ini,” pesan Menag lagi.
Terakhir Menag berpesan agar madrasah harus bisa berperan aktif menjadi benteng terhadap virus paham radikalisme.
Helat Pembukaan Aksioma, KSM dan LKTI yang diikuti seluruh provinsi di Indonesia ini dimeriahkan dengan beberapa performace art, seperti tari kolosal dari madrasah di Sumsel, konser Band Waly serta Aksi Tentara Cilik dari siswa-siswi MIN Sumsel yang mengamankan ular-ular kobra dan piton.
Dalam ajang ini, ketua kontingen Riau tahun ini adalah H Mahyudin, Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Riau. (griven)