0 menit baca 0 %

Akar Asap Adalah Korupsi

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas) – Akar korupsi yang merajalela di Indonesia adalah sistem. Untuk itu sistem yang berlaku di negara ini perlu diubah. Hampir semua sistem yang berlaku di negara ini menyebabkan orang dapat berbuat korupsi. Dan korupsi merupakan faktor dominan merajalelanya asap yang tak kunjun...

 

Pekanbaru (Inmas) – Akar korupsi yang merajalela di Indonesia adalah sistem. Untuk itu sistem yang berlaku di negara ini perlu diubah. Hampir semua sistem yang berlaku di negara ini menyebabkan orang dapat berbuat korupsi. Dan korupsi merupakan faktor dominan merajalelanya asap yang tak kunjung hilang di negeri ini.

Hal itu disampaikan Prof Dr Alaiddin Koto MA saat membedah buku Pendidikan Anti Korupsi (Memotong Generasi Korup) di Gedung Islamic Centre UIN Suska Riau, Jumat (23/10). 

“Kesejahteraan itu lebih penting daripada sistem demokrasi yang kita anut. Coba tunjukkan satu ayat atau hadits yang menyuruh orang memilih pemimpin berdasarkan voting,” kata Guru Besar UIN Suska Riau tersebut menantang hadirin.

Pada kesempatan itu, Mantan Dekan Fakultas Syariah IAIN Susqa Pekanbaru tersebut juga membakar semangat mahasiswa agar menjadi penulis. Menurut Alaiddin, penulis itu adalah pemikir. Pemikir itu merupakan anak zamannya. Ia memikirkan keadaan zamannya. Berpikir mencari solusi atas masalah yang dihadapi masyarakatnya. “Penulis itu mencari, mencari, dan mencari solusi atas masalah yang membelit masyarakatnya. Mereka tak pernah berhenti dalam mencari dan mencari,” ujar Alaiddin Koto.

Alaliddin juga berpesan kepada penulis agar meniatkan tulisannya untuk ibadah bukan untuk mencari popularitas. “Menulislah dengan niat ibadah. Sekarang di negeri ini, para idealis kehilangan mimbar. Mimbar kini dikuasai oleh orang-orang yang gila kekuasaan. Untuk itu, menulislah karena di sini suara kita masih bisa terdengar,” katanya.

Sementara itu Griven H Putera, salah seorang sastrawan Riau memandang buku Pendidikan Anti Korupsi ini lahir karena kegelisahan dan kerisauan yang menimpa negeri ini. Semakin banyak koruptor ditangkap, semakin banyak orang yang korup. Bahkan KPK sebagai salah satu lembaga pemberantasan nomor wahid di negeri ini mengalami upaya pelemahan, di antaranya melalui RUU KPK. “Sebagai penulis, Susanto meluahkan kerisauannya tersebut dalam bentuk buku. Semoga semangat ini bakal diikuti oleh mahasiswa dan elemen bangsa ini,” kata Griven.

Griven mengajak mahasiswa untuk benar-benar mengemban amanah sebagai agent of social change. “Kalau bukan kita di kampus ini, dan para kaum terpelajar, lalu siapa lagi yang memikirkan nasib negeri ini? Apakah kita perlu berharap kepada petani, kepada buruh, nelayan dan ayah ibu kita di kampung untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di negeri ini? Sekarang di Riau, racun asap yang datang akibat sistem negara yang rusak seperti yang disampaikan Prof Alaiddin tadi, apa yang dilakukan mahasiswa? Pun, ketika korupsi semakin menggila, di mana suara intelektual kita, apa gerakan kita sebagai calon pemimpin masa depan?” tanya Griven.

“Menjadi penulis merupakan salah satu cara untuk mencerahkan anak bangsa. Memang, terkadang tulisan seorang pemikir itu hanya bagai sengatan lebah tanpa bisa tapi jangan lupa, Nadine Gordimer, seorang peraih nobel sastra dari Afrika Selatan pernah berkata ‘Pada mulanya kata, selanjutnya menjadi senjata’. Jadi, gunakan tulisan sebagai senjata mahasiswa melawan ketimpangan-ketimpangan yang berlaku di negeri ini,” lanjut Griven. 

Sementara itu, Susanto Al Yamin, sebagai penulis buku Pendidikan Anti Korupsi menyampaikan bahwa pendidikan anti korupsi hendaklah dimulai sejak dini. 

“Walaupun korupsi sudah amat parah melanda bangsa ini tapi kita jangan putus asa. Mulailah dari diri sendiri. Mulailah jujur berkata, jujur berbuat, jujur bersikap, baik di rumah, dalam keluarga, di kampus maupun dalam kehidupan masyarakat luas. Dan lembaga yang paling berpengaruh adalah lembaga pendidikan formal karena anak didik lebih banyak menghabiskan waktunya di sana. Untuk itu kepada praktisi lembaga pendidikan agar menjadi teladan bagi anak-anak didik. Kita hari ini kehilangan figur yang dapat dijadikan teladan,” kata Susanto. 

Acara ini ditaja BEM Fakultas Ekonomi dan Sosial UIN Suska Riau yang bekerja sama dengan Pondok M2IQ Riau. (ghp)