Riau (Inmas)- Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan masyarakat baik langsung maupun tidak langsung, baik melalui telpon maupun media sosial dan bahkan viral serta terjadi polemik di media sosial dan di tengah masyarakat, tentang penggunaan pengeras suara di Masjid, Langgar dan Musholla, Kakanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad Supardi mengeluarkan press releasenya, Senin (3/9/2018).
- Instruksi Direktur Jenderal
Bimbingan Masyarakat Islam tersebut tidak ada melarang penggunaan pengeras
suara untuk adzan di Masjid, Langgar, dan Mushalla. Instruksi itu bahkan
mempersilahkan adzan dengan pengeras suara sekuat kuatnya, karena hal itu
adalah pemberitahuan waktu sholat dan mengajak umat untuk melaksanakan
sholat. Tentunya dengan suara yang merdu, fasih dan menyejukkan.
- Umat beragama di luar pemeluk agama Islam yang kebetulan tinggal di sekitar Masjid, Langgar, dan Mushalla, diminta untuk dapat memahami dan merasa tidak terganggu dengan suara adzan tersebut, karena ini adalah bahagian dari ajaran agama Islam yang telah membudaya dan mendarah daging bagi umat Islam, dalam rangka memberitahu waktu sholat telah tiba dan sekaligus mengajak umat untuk melaksanakan sholat dan meraih kemenangan.
- Instruksi ini ditujukan pada daerah perkotaan seperti ibukota negara, provinsi, dan kab/kota yang penduduknya sangat heterogen dari sisi agama, budaya kerja, adat dan tradisi, serta lain sebagainya. Sedangkan daerah perdesaan yang penduduknya homogen atau bahkan satu kampung itu hanya dihuni umat Islam, maka dapat menyesuaikan sesuai dengan kebutuhan dan tradisi masyarakat setempat.
Aturan dalam instruksi ini secara umum mengatur penggunaan pengeras suara saat pelaksanaan Adzan, Tilawah Al-Qur'an menjelang Sholat, pengajian dan Upacara Hari Besar Islam, sbb:
Aturan Penggunaan Pengeras Suara:
- Pengeras suara luar digunakan untuk
Adzan sebagai penanda waktu shalat.
- Pengeras suara dalam digunakan untuk
do’a dengan syarat tidak meninggikan suara.
- Mengutamakan suara yang merdu dan
fasih serta tidak meninggikan suara
Waktu Sholat Shubuh:
- Sebelum subuh boleh menggunakan
pengeras suara paling awal 15 menit sebelum waktunya.
- Pembacaan Al-Qur’an hanya
menggunakan pengeras suara keluar.
- Adzan waktu Subuh menggunakan
pengeras suara ke luar.
- Shalat subuh, kuliah subuh, dsb
menggunakan pengeras suara ke dalam saja.
Waktu Sholat Ashar, Maghrib & Isya:
- 5 Menit sebelum adzan dianjurkan
membaca Al-Qu’an.
- Adzan dengan pengeras suara ke luar
dan ke dalam.
- Sesudah Adzan, hanya menggunakan
pengeras suara ke dalam.
Waktu Sholat Dzuhur dan Jumat:
- 5 menit menjelang dzuhur dan 15
menit menjelang waktu jum’at diisi dengan bacaan Al-Qur’an yang ditujukan ke
luar, demikian juga suara adzan.
- Shalat, do’a, pengumuman, khutbah, menggunakan pengeras suara ke dalam
Waktu Takbir, Tarhim dan Ramadhan:
- Takbir Idul Fitri/Idul Adha dengan
pengeras suara ke luar.
- Tarhim do’a dengan pengeras suara ke
dalam dan tarhim dzikir tak menggunakan pengeras suara.
- Saat Ramadhan siang dan malam hari,
bacaan Al-Qur’an menggunakan pengeras suara ke dalam.
Waktu Uparaca Hari Besar Islam dan Pengajian:
- Pengajian dan Tabligh hanya
menggunakan pengeras suara ke dalam, kecuali pengunjungnya meluber ke
luar.
Untuk itu, Ahmad Supardi berharap supaya aturan ini dapat dilaksanakan oleh Pengurus Masjid, Langgar, dan Musholla dengan sebaik baiknya serta tidak mengkait- kaitkan dan membenturkannya dengan politik praktis, sebab aturan ini telah dibuat 40 tahun yang lalu atau sejak tahun 1978. “Jadi, tak ada larangan gunakan pengeras suara waktu adzan, Kemenag bahkan membolehkan sekuat- kuatnya,” tegasnya. (rls/mus)