Riau (Inmas)- Dr Soejatmoko yang pernah menjabat Rector Universitas PBB Tokyo Jepang, yang juga pemuka di Indonesia, menyebutkan bahwa system pendidikan modern dan system pendidikan masa depan ada pada system pendidikan Pondok Pesantren yang dikombinasi dengan sentuhan manajemen modern.
Hal tersebut ditegaskan Kakanwil Kemeng Riau Drs H Ahmad Supardi MA, saat memberikan kata sambutan pada Haflah Akhirussanah ke 17 Pondok Pesantren Nurul Huda Al Islam Marpoyan Damai Pekanbaru, Sabtu (13/5/2017) malam di Pondok Pesantren Nurul Huda.
Hadir dalam kegiatan tersebut Gubri diwakili Plt Kabiro Kesra, Polda, Pimpinan Pontren Al Ihsan sera seluruh suriah, pengasuh, uztad dan uztasah, alim ulama, tokoh agama dan orang tua wali santri.
“Sujatmoko yakin jika system pendidikan di Indonesia dilaksanakan sebagaimana halnya di pondok pesantren ditambah dengan sentuhan manajemen modern, maka itulah system pendidikan modern, system pendidikan masa depan yang paling pas diterapkan di Indonesia, bahkan seluruh Dunia,” ungkap Ahmad Supardi yang mengungkapkan kegembiraannya dapat hadir pada Haflah Pondok Pesantren Nurul Huda Al Islam bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren, karena ia juga berasal dari salah satu Pondok Pesantren di Tapanuli Sumatera Utara.
Untuk itu, Kakanwil berpesan kepada seluruh orang tua dan anak- anak santri untuk senantiasa bersnyukur karena dari sekian banyak orang yang ingin sekolah di pondok pesantren, tapi hanya sebagian yang bisa mengecap pendidikan di ponok pesantren. Walaupun orang berkata tradisional, tetapi sesungguhnya pendidikan modern yang bernuansa masa depan.
Saat ini banyak pendidikan bertaraf internasional dengan biaya mahal, tetapi setelah dicermati seksama sistem pendidikan yang diterapkan mengacu pada sistem pondok pesantren. Pertama, salah satu contoh bording school (asrama), sementara sistem asrama bagi pondok pesantren bukan hal asing lagi sebelum Indonesia merdeka, hal tersebut sudah terapkan system asrama karena pendidikan 24 jam. Dan ini diadobsi oleh orang lain walau dengan nama berbeda, yaitu sekolah bertaraf internasional.
Kedua, sekolah internasional menggunakan bahasa internasional, bahasa inggris, bahasa jerman, bahasa china, dan sebagainya. Di pondok pesantren, bahasa internasional khususnya bahasa arab, bahasa inggris sudah menjadi keseharian santri yang tidak dapat dipisahkan dari pondok pesantren.
Ketiga, sekolah internasional memiliki ciri khas sendiri/ karakter khusus. Ini juga telah lama dimiliki oleh pondok pesantren, antara pondok satu dengan yang lain memiliki perbedaan atau khas masing- masing, baik mata pelajaran, buku pegangan dan sebagainya.
“Ini membuktikan bahwa pondok pesantren adalah system pendidikan yang sudah mapan, bisa dilaksanakan kapan saja. Relevan masa dahulu, masa kini dan masa yang akan datang. Untuk itu, bersyukurlah bisa sekolah,” ucapnya.
Diakhir arahannya, mantan Kakankemenag Rohul ini berpesan, selain rasa syukur, tamat sekolah santri hendaknya tidak langsung menikah, tapi melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi, jangan lupakan jasa guru, jangan durhaka pada orang tua, anak adalah kebanggan orang tua, keberhasilan anak adalah keberhasilan orang tua dan jangan lupa silaturrahim, karena ini banyak manfaatnya memanjangkan umur, memurahkan rezeki, menghindarkan kematian yang buruk dan lainnya. Apalagi ini adalah bagian dari ajaran agama Islam. (mus/anto)