Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan umat Islam di Indonesia, baik pada tingkat RT/ RW, Masjid, Desa/ Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/ Kota, Provinsi dan bahkan tingkat Nasional/ Negara, hendaknya bukan hanya sebatas seremonial belaka. Tetapi harus dapat menangkap substansi paling asasi dari peringatan Maulid Nabi itu sendiri.
Hal tersebut ditegaskan Kakanwil Kemenag Provinsi Riau, Drs H Ahmad Supardi MA, Kamis (8/12/2016) saat dikonfirmasi wartawan terkait memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW yang setiap tahun dilaksanakan oleh umat Islam dan akan diperingati tahun ini pada 12 Desember 2016.
Menurutnya, peringatan Maulid Nabi dimaksudkan untuk dapat mengenang sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mengemban misi kenabian dan kerasulan, sehingga agama Islam dapat berkembang begitu pesat, bukan hanya di jazirah Arab, tetapi sampai ke Afrika, Eropa, Asia, dan bahkan sampai ke Indonesia.
“Nabi Muhammad SAW telah mengabdikan seluruh kekuatan dirinya dan bahkan hartanya, untuk dapat mengembangkan agama Islam dan bahkan melindungi serta memberdayakan umatnya, sehingga menjadi satu komunitas yang memiliki kekuatan tangguh, yang sangat disegani oleh lawan, khususnya oleh dua kerajaan besar saat itu, yakni kerajaan Bizantium dan Romawi,” ungkap Kakanwil mengenang sejarah perjuangan Rasulullah SAW.
Ia menambahkan, peringatan Maulid juga diharapkan dapat meneladani sifat- sifat Rasulullah SAW, seperti Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah, dan sifat- sifat terpuji lainnya, seperti pemaaf, pemurah, peduli kepada sesama, tawadhuk, penyabar, banyak bertaubat, banyak berzikir, dan lain sebagainya.
“Dengan melakukan peringatan Maulid seperti tersebut di atas, maka saya yakin dan percaya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilakukan umat Islam setiap tahun di seantero negeri ini, dapat dijadikan sebagai momentum kebangkitan umat Islam, bukan hanya umat Islam Indonesia, tetapi juga umat Islam internasional,” ungkapnya optimis.
Harus diakui bahwa banyak kalangan dari cendikiawan muslim internasional, yang meramalkan bahwa kebangkitan umat Islam, setelah berkuasa dan mengukir peradaban baru selama 700 tahun, kemudian tidur lelap dalam kemunduran sekitar 700 tahun pula, maka 700 tahun fase ketiga, akan lahir dan bangkit kembali umat Islam, yang itu diharapkan dari umat Islam Indonesia.
“Hal ini sangat beralasan, karena Indonesia adalah umat islamnya terbesar di dunia. Negaranya kaya raya, para ulama dan cendikiawannya lahir bagaikan jamur di musim hujan, perguruan tingginya sangat banyak, madrasah dan Pondok Pesantrennya ada di semua sudut negeri ini. Dan potensi potensi lainnya, yang itu sangat mendukung kebangkitan umat Islam,” pungkas laki- laki yang baru saja di lantik jadi Kakanwil Kemenag Riau 10 Oktober 2016 lalu. (ash)