0 menit baca 0 %

Ahmad Supardi: Bangun Jiwa Nasionalisme dengan Memperingati Hari Besar Nasional

Ringkasan: Riau (Inmas)- Dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah, para pemuda pada zaman kolonialisme bersusah payah dengan mempertaruhkan jiwa dan raga. Yang seharusnya bisa bersenang-senang dengan masa mudanya justru mengorbankan hidupnya hanya demi merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Riau (Inmas)- Dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah, para pemuda pada zaman kolonialisme bersusah payah dengan mempertaruhkan jiwa dan raga. Yang seharusnya bisa bersenang-senang dengan masa mudanya justru mengorbankan hidupnya hanya demi merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Kakakanwil Kemenag Riau, Drs H Ahmad Supardi MA, Rabu (27/9/2017) menyebutkan, seiring berkembangnya zaman atau yang lebih kita kenal dengan zaman globalisasi, rasa nasionalisme di kalangan generasi semakin memudar. Hal ini dibuktikan dari berbagai sikap para pemuda dalam memaknai berbagai hal penting bagi Negara Indonesia

“Jadi saya sangat setuju dengan adanya peringatan hari kesaktian Pancasila, Hari Kemerdekaan dan lainnya, sebab  Pancasila adalah jalan tengah kompromistis atas berbagai usulan tentang dasar atau idiologi bangsa Indonesia,” jelas Ahmad Supardi.

Menurutnya, Pancasila selanjutnya mempersatu antara ide kaum nasionalis dan kaum agamis, khususnya umat Islam. Bagi umat Islam, Pancasila justru sangat islami, karena nilai nilai dasar Pancasila adalah substansi ajaran pokok agama islam, seperti Ketuhan yang artinya adalah tauhid. Adil dan beradab. Persatuan dan kesatuan. Kerakyatan, Hikmat kebijaksanaan, musyawah. Dan keadilan.

Peringtan- peringatan seperti ini juga dimaksudkan untuk menghadang dan mencegah berkembang biaknya komunis, baik sebagai sebuah paham (isme) maupun sebagai organisasi. Sejarah mencatat bahwa PKI pernah membantai umat islam dan bahkan membunuh sekian banyak Jenderal TNI yang kemudian kita kenal dengan peristiwa G30S/PKI,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan dukungannya atas nonton bareng dan pemutaran film G30S/PKI untuk mengingatkan bangsa Indonesia bahwa PKI mau berbuat apa saja untuk mencapai tujuannya sekalipun harus membunuh tokoh tokohnya.

Ajaran komunis memang salah satunya adalah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Untuk itu, saya juga secara khusus mengeluarkan himbauan dalam bentuk surat agar seluruh pejabat/pegawai Kemenag pada semua tingkatan dan siswa/i madrasah serta santri pondok pesantren untuk ikut NOBAR Film G30S/PKI. Saya akan putar film itu di kantor dan saya harap juga diputar di madrasah dan pondok pesantren,” ujarnya.

Selanjutnya mantan Kakankemenag Rohul ini berharap agar seluruh tokoh agama ikut serta membendung faham radikalisme dan memagari umat, sebab faham radikalisme akan berujung pada intoleransi dan terorisme. Jika ini terjadi makan akan menimbulkan chaos di tengah masyarskat. (ash/-em)