Riau (Inmas)- Hijrah zaman dulu berbeda dengan hijrah zaman
sekarang. Jika hijrah zaman dulu orientasinya lebih pada hijrah fisik dari satu
tempat ketampat lain, hijrah saat ini atau yang trendnya disebut hijrah zaman
now, lebih dititikberatkan pada 4 hal, yaitu hijrah mentalitas, hijrah
kultural, hijrah material dan hijrah social.
Hal tersebut ditegaskan Kakanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad
Supardi MA usai menghadiri acara Tausiah Akbar MTs N 3 Pekanbaru, Jumat
(14/9/2018) di Lapangan MTs N 3 Kota Pekanbaru.
“Tausiah Akbar dalam rangka semarak tahun baru Islam 1440 H
di MTsN 3 Kota Pekanbaru mendorong siswa untuk hijrah sesuai kondisi saat ini,
atau hijrah zaman now yang dititik beratkan pada 4 poin yang relevant dengan
kondisi dan waktu saat ini,” ungkapnya.
Secara rinci, Ahmad Supardi menjelaskan 4 point dimaksud. Pertama,
hijrah mentalitas, yaitu hijrahnya seseorang dari tidak baik menjadi baik, atau
dari orang baik menjadi lebih baik lagi. Jika selama ini sering telat masuk
sekolah, maka mulai saat ini hingga masa yang akan datang harus selalu disiplin
dan tepat waktu.
“Presiden menyebutnya sebagai revolusi mental yang dapat
diterjemahkan dalam bentuk kehidupan sehari- hari,” jelasnya.
Kedua, hijrah kultural, yaitu berpindah secara kultural atau
budaya/ kebiasaan seseorang yang kurang tepat menjadi baik khususnya dalam
meningkatkan pengetahuan diri. Misalnya, yang selama ini masih malas- malasan
belajar, maka kedepan harus lebih [rajin belajar dan mengembangkan diri dalam
berbagai disiplin ilmu.
“Sebelumnya kita merupakan orang terdepan dalam ilmu
pengetahuan, apalagi ALquran surah pertamanya perintahnya membaca, tentu ini
berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Itu artinya, kita diperintahkan untuk selalu
bergelut dengan ilmu pengetahuan,” tambahnya.
Ketiga, hijrah material. Secara materi selama ini kaya tapi
miskin, justru orang lain yang menjadi kaya. Padahal ajaran agama Islam
menegaskan adanya perintah bayarlah zakat, ungkapan tersebut bukan hanya
perintah berbagi tetapi bagaimana mencari agar bisa menjadi orang kaya agar
bisa membagikan apa yang kita punya dengan orang lain.
Keempat, hijrah social. Dengan meningkatkan kepedulian social,
karena tanpa kepedulian antar sesama maka Negara akan hancur. “Kalau ada kawan
kita yang terkena musibah, maka tanpa diundang harus membesuk atau bertaksiah
untuk sekedar memberikan dukungan atau menghibur. Termasuk disekolah jika
membawa makanan enak, maka kita juga harus berbagi dengan kawan- kawan lainnya,”
ungkapnya dan berharap hal tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan agar
dapat menjadi generasi lebih baik. (mus/ana/faj/khair)