0 menit baca 0 %

Abdul Somad : Bersihkan Hati dengan Saling Meminta dan Memberi maaf

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas) – Sudah menjadi tradisi umat Islam di Indonesia pasca perayaan Idul Fithri melaksanakan Halal bi halal sebagai sarana silaturrahim dan saling maaf memaafkan antara sesama untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan setelah keluar dari tempaan Ramadhan.

Pekanbaru (Inmas) – Sudah menjadi tradisi umat Islam di Indonesia pasca perayaan Idul Fithri melaksanakan Halal bi halal sebagai sarana silaturrahim dan saling maaf memaafkan antara sesama untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan setelah keluar dari tempaan Ramadhan. Untuk itu Kemenag Riau menciptakan keakraban melalui silaturrahim Idul Fithri 1436 H diantara Keluarga besar kementerian Agama Provinsi Riau setelah libur bersama menyambutIdul Fithri 1436 H . Acara halal bihalal ini berlangsung pada Rabu (22/07) pagi di Aula Lt II Kanwil Kemenag Riau.

Hal ini tentu bertujuan untuk membangun ukhuwah islamiyah tanpa mengesampingkan ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah insaniah. Turut Hadir pada acara tersebut Kakanwil Kemenag Provinsi Riau H Tarmizi Tohor, Kabag TU HM Saman, Pejabat struktural dan fungsional eselon III dan IV, serta seluruh karyawan/ti dilingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Riau.

Sementara itu untuk menyempurnakan kegiatan ini Abdul Somad Lc MA betindak selaku penceramah memberikan tausiyah yang sangat menyentuh. Dalam tausiyahnya beliau menyampaikan betapa pentingnya memulai untuk meminta maaf dan memberi maaf dan betapa besarnya makna yang harus diimplementasikan pasca Ramadhan.

“Apa yang bisa kita dapatkan dari halal bihalal ini? Mengapa Idul fitri menjadi moment saling bermaafan? Inilah pertanyaan yang harus kita kemukakan pada diri sendiri,” kata Abdul Somad dalam ceramahnya. Dari beberapa cerita hikmah yang beliau uraikan, ada sebuah cerita yang paling menarik dan menyentuh yaitu sebuah hikmah cerita tentang kebesaran hati Muhammad dalam memaafkan kafir quraisy pada peristiwa “Perang Uhud” yang menewaskan Hamzah pamannya sendiri yang paling dihormati dan paling dicintainya dalam kondisi yang sangat menggenaskan. Dikatakannya pada peristiwa itu Rasulullah meneteskan airmata sambil berkata “seumur hidupku berlum pernah sesedih dan semarah ini”. “Namun hebatnya beliau tetap bisa bersabar dan tidak membalas dendamnya pada kafir quraisy tersebut sepeti apa yang dilakukan kaum quraisy kepadanya”, ungkapnya. Bahkan rasulullah bisa memaafkan perbuatan keji mereka, tandasnya.

Menutup tausiyahnya mengajak seluruh jajaran Kemenag Riau untuk bisa mengambil hikmah dan mengimplementasikan semua peristiwa dan perbuatan yang dilakukan nabi Muhammad Saw dalam kehidupan sehari-hari. “Mari kita tingkatkan kualitas amal sehingga kita bisa berpulang kepadaNya suatu saat dalam keadaan hati yang bersih”, tutupnya.(vera)