Riau (Inmas)- Terkait kasus tertahannya 45 jamaah umrah di Makkah ditambah penundaan keberangkatan 4 rombongan atau sebanyak 160 jamaah umrah Provinsi Riau via PT Bumi Minang Pertiwi (BMP), pengurus Wilayah BMP Provinsi Riau melakukan klarifikasi ke Kanwil Kemenag Riau, Kamis (29/3/2018).
Kedatangan pengurus Wilayah BMP Provinsi Riau dengan Kepala Wilayah, Elfi Susanto diterima oleh Kakanwil Kemenag Riau melaui Kasi Pembinaan Haji dan Umrah H Abdul Wahid S Ag M I Kom di ruang Bidang PHU Kanwil Kemenag Riau.
Kepala Wilayah BMP Riau, Elfi Susanto, dalam penjelasannya mengatakan, kondisi yang terjadi bukan karena unsur kesengajaan, tetapi karena musibah yang tidak diharapkan. Dimana sebanyak 45 orang jamaah asal Riau dengan jadwal keberangkatan 18 Maret 2018 lalu tertunda kepulangannya ke tanah air karena pihak Hotel Rayana Mekkah menahan paspor dan visa jamaah sebelum pihak BMP pembayaran cash untuk 5 grup jamaah umrah dengan dana sekitar Rp 500 juta. Setelah pihak BMP melakukan pembahasan internal, BMP menyepakati untuk membayar lunas rombongan yang check in 1 grup dengan biaya sekitar Rp 80 juta. Namun pihak hotel tetap menolak dan menahan paspos dan visa jemaah, sehingga jemaah tidak bisa pulang ke tanah air pada hari Rabu (28/03) lalu. Akibat penundaan kepulangan jamaah BMP di Makkah, Jamaah BMP yang ada di Madinahpun tertunda keberangkatannya ke Makkah.
“Kemudian pada 27 Maret 2018, dimana keberangkatan 91 jamaah Padang yang akan berangkat pada sore harinya masih menunggu visa yang akan dikirim dari Jakarta ke Padang. Awalnya kita akan membawa visa tersebut dengan Garuda, namun karena pesawat penuh maka kita beralih ke Pesawat Lion. Tetapi Pesawat Lion mengalami delay akibatnya jadwal kebarangkatan jamaah ke Malaysia (sebelum ke Madidah/Jeddah) hangus, akibatnya tiket pesawat ke tanah suci pun hangus dengan kerugian 91 orang dikalikan 23 Juta perorang,” jelasnya.
Akibat dua kasus yang terjadi secara beruntun di bulan Maret tersebut, BMP Wilayah Riau terpaksa harus menunda atau mereschedule keberangkatan 4 kelompok terbang atau sebanyak 160 Jamaah Umrah BMP pada Maret dan April 2018 untuk menuntaskan permasalahan yang masih terjadi pada jamaah BMP, baik yang di Padang maupun jamaah Riau yang masih di ada di Makkah dan Madinah saat ini.
“Terhadap permasalahan ini, kita dari BMP Riau sudah melakukan koordinasi dengan BMP pusat di Jakarta. Selanjutnya, BMP Riau juga meminta bimbingan dari Kanwil Kemenag Riau sehingga pemulangan 45 jemaah BMP Riau bisa segera diurus,” ungkapnya.
Elfi Susanto mengatakan, pihak pusat berjanji akan bertanggungjawab penuh terhadap pemulangan dan pemberangkatan jemaah Riau. Menurutnya, sistim keuangan BMP sepenuhnya dikelola oleh BMP pusat, sedangkan perwakilan Riau hanya bertugas untuk administrasi.
"Kedatangan kami ke Kanwil Kemenag Riau, dalam rangka mencarikan solusi terhadap musibah yang menimpa travel kami. Alhamdulillah, pihak Kemenag siap membantu kami karena ini kejadian yang tidak terduga. Bagi jemaah yang tertahan di Mekkah, akan dipulangkan secepatnya. Sedangkan bagi jemaah yang akan berangkat, mohon bersabar karena ada reschedule jadwal pemberangkatan. Bagi yang mau refund juga akan kita lakukan, tapi tolong kasih kami waktu karena ini akan dilakukan secara bertahap,” terangnya lebih lanjut.
Terhadap kasus tersebut, Kasi Pembinaan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Riau, H Abdul Wahid S Ag MI Kom, meminta agar pihak travel bertanggungjawab secara bisnis terhadap jamaah yang sudah di rugikan, yaitu dengan segera menuntaskan permasalahan dengan pihak terkait, seperti penerbangan maupun hotel, sehingga jamaah yang tertahan di Madinah dan Makkah dapat kembali ke tanah air, dan jamaah yang belum diberangkatkan untuk segera di reschedule ulang. Karena jika tidak diatasi segera, akan berimbas pada yang lain, seperti saat ini sebanayk 50 jamaah umrah Kiblatain juga tertahan di Kuala Lumpur akibat pembatalan tiket yang dilakukan oleh penerbangan, dengan alasan komisaris Kiblatian merupakan orang yang sama di BMP.
Selain itu, ia juga menghimbau, agar masyarakat yang menggunakan jasa Travel BMP tidak terpancing dengan isu hoax yang beredar di dunia maya karena pihak travel akan bertanggungjawab penuh terhadap keberangkatan dan pemulangan jemaahnya.
"Ini merupakan pembelajaran bagi travel haji dan umrah, untuk lebih baik memberikan pelayanan terhadap jamaahnya. Untuk itu, empat hal yang kita tekankan kepada BMP Wilayah Riau, pertama harus bertanggungjawab secara bisnis, kedua; jangan mengabaikan permasalahan- permasalahan kecil yang bisa merembes kepermasalahan lain, ketiga; visa dan paspor sehari sebelum keberangkatan jamaah sudah harus diterima, keempat; perjanjian kerjasama yang jelas dengan semua pihak agar tidak ada pembatalan sepihak oleh pihak terkait,” tegasnya.
Sementara itu, Kanwil Kemenag Riau juga telah melaporkan secara lisan dan akan disusul dengan tulisan ke Direktur Bina Umrah dan Haji Plu Kemenag RI dan telah ditunjuk pihak yang akan menangani kasus tersebut, sehingga Kemenag akan terus melakukan koordinasi dan menindaklanjuti agar jamaah Riau yang masih di tanah suci dapat segera kembali ketanah air.
“Kita akan terus koordinasikan hal ini ke pusat, pihak BMP juga kita minta untuk mendesak pihak BMP pusat untuk segera menyelesaikan permasalahan yang ada. Jika ada tunggakan, segera dilunasi agar jamaah dapat segera kembali ke tahan air, karena ini akan menjadi isu nasional bahkan internasional yang merusak citra travel itu sendiri,” himbaunya. (mus/eka)