Pekanbaru (Inmas)- Spirit Raden Ajeng Kartini di era modern saat ini terus menjadi semangat kaum hawa untuk lebih berprestasi dan berkiprah di segala bidang. Wanita Indonesia atau lebih tepat disebut Kartini masa kini sudah mempu mensejajarkan diri atau bahkan melampau kedudukan pria diberbagai bidang politik, ekonomi, social, pendidikan dan sebagainya.
Berbicara tentang kemajuan perempuan, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil Kemenag Provinsi Riau, Rosnimar S Pd, mengungkapkan, sebenarnya telah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Pada masa kenabian terlihat dari majlis-majlis yang dipimpin Rasululloh SAW tidak hanya melibatkan para sahabat, tetapi juga sahabiyat. Perempuan masa itu mendapatkan hak untuk menimba ilmu, mengkritik, bersuara dan berpendapat. Atas permintaan muslimah pula Rasulullah SAW memimpin satu majlis terpisah khusus muslimah agar muslimah berkesempatan lebih banyak berdialog dan berdiskusi dengan beliau. Subhanalloh!
Sejarah pun mencatat betapa istri Rasulullah dan banyak para perempuan di masa Rasulullah patut dijadikan teladan. Ummul Mukminin Khadijah r.a. adalah salah satu kampium bisnis pada masa itu. Sementara Aisyah r.a. adalah perawi hadis dan banyak memberikan fatwa karena kecerdasannya. Sumayyah binti Hubath, orang yang pertama-tama masuk islam yang juga Isteri Yasir r.a, demi mempertahankan keimanannya dia menyatakan penentangannya terhadap orang-orang kafir yang menyiksanya, beserta suami dan anaknya, hingga beliau dan suaminya menemui syahid.
Islam sampai pula ke Indonesia terlahirlah perempuan-perempuan Indonesia yang pernah merasakan hidup di bawah naungan khilafah. Mereka perempuan- perempuan hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Sebut saja Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pecut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.
Mengapa hanya hari Kartini yang kita peringati setiap tanggal 21 April? Hanya Kartini yang disebut- sebut sebagai pahlawan nasional penjuang emansipasi wanita? Padahal jauh sebelum Kartini ada banyak wanita- wanita pejuang lainnya. Kenapa bukan Cut Nyak Dien atau yang lainnya.
Barangkali jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut, kata perempuan yang kerap disapa ibu Ros ini, karena hanya Kartini lah yang secara spesifik mengangkat dan menyuarakan penindasan yang dialami wanita di Indonesia, yang mendapat diskriminasi dan perlakuan tidak adil hanya karena mereka berjenis kelamin perempuan.
Perjuangan Cut Nyak Dhien sudah tuntas dengan terusirnya Belanda dari Indonesia. Rohana Kudus, Dewi Sartika juga sudah tuntas dengan tidak masalahnya perempuan bersekolah dan berkarir. Tapi perjuangan Kartini belum tuntas, perjuangan terhadap diskriminasi terhadap perempuan masih terus berlanjut, karena itulah semangat Kartini harus terus. Indonesia secara umum masih membutuhkan sosok-sosok perempuan seperti Kartini, yang terus tanpa lelah berjuang untuk membela hak-hak kaum perempuan dari sikap diskriminatif masyarakat yang didominasi oleh nilai-nilai patriarki.
Derap Langkah Kartini Masa Kini
Rosnimar menambahkan, fitrah perempuan dari sejak dulu sampai sekarang sama, sebagai istri bagi suaminya, ibu bagi anak-anaknya dan pengatur rumah yang bertugas menciptakan keharmonisan di dalam rumah tangga. Adapun dari sisi lain bahwa perempuan juga manusia sama sebagaimana halnya laki-laki, dia adalah hamba Allah dan juga bagian dari anggota masyarakat yang berkewajiban beramar ma’ruf nahi munkar.
“Sangat menarik bagi kaum muslimah khususnya, terutama di bulan April untuk menelaah lebih dalam sosok Kartini, agar bisa mengingatkan kaum perempuan Indonesia lainnya untuk tidak salah melangkah,” ujarnya.
Karena kini, atas nama emansipasi, dengan dalih meneladani Kartini banyak perempuan yang meninggalkan kodratnya. Menjadi Kartini masa kini telah menjadikan banyak kaum hawa tidak menyadari bahwa sebagai perempuan Indonesia apa yang banyak dilakukannya, justru membuat mereka kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi moral yang berdasarkan nilai-nilai agama. Mereka lupa akan kemuliaannya sebagai perempuan yang berpegang teguh pada nilai agama. Mereka pun lupa bahwa untuk berprestasi di ajang daerah, nasional atau internasional itu bisa tanpa mengorbankan jati dirinya sebagai umat beragama.
“Perempuan memang semakin terdidik seperti halnya harapan Kartini. Tapi keterdidikan kaum perempuan masa kini tidak seperti apa yang diperjuangkan Kartini. Kini semakin terdidik bukan malah menjadikannya semakin pintar menjalankan kewajiban, melainkan disibukkan menuntut hak-haknya. Perempuan sibuk berkiprah menyamai laki-laki, baik di bidang politik, ekonomi, hukum, pendidikan, sosial dan sebagainya,” ungkap perempuan yang kesehariannya mengajar di pada MAN 2 Model Pekanbaru.
Ia mengakui, perempuan bisa punya penghasilan sendiri, tidak tergantung suami dalam hal keuangan, dianggap sukses, mandiri, bebas menentukan nasib sendiri, bebas mengaktualisasikan diri dan mendapatkan hak-haknya.Tapi kewajibannya sebagai istri dan ibu pendidik generasi jadi terabaikan. Sebutan wanita karier lebih menggiurkan dibanding dengan sebutan Ibu Rumah Tangga.
“Sebenarnya perempuan bekerja tidak masalah, asal memang atas dasar izin suami dalam rangka menbantu pemenuhan kebutuhan keluarga. Selain itu, hak dan kewajiban sebagai perempuan di keluarga dan perempuan di masyarakat harus berimbang,” tegas ibu satu orang anak ini. Untuk itu, derap langkah Kartini masa kini harus diarahkan pada tujuan yang lebih pasti tampa harus mengorbankan kodratnya sebagai wanita.
Dengan berpendidikan dan dengan bekerja wanita akan memiliki wawasan luas, memiliki kepribadian yang lebih baik, terbuka dengan dunia luar dan mampu menjadi istri yang bisa menempatkan dirinya sesuai keadaan, dan menjadi pendidik bagi anak- anak sesuai dengan perkembangan zaman.
Perempuan Tiang Negara
Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Lukman Hakim Saifuddin pada acara Organisasi International Muslim Women Union (IMWU) di Bekasi beberapa waktu lalu pernah mengatakan, bahwa kedudukan perempuan adalah tiang negara. Apabila perempuan baik, baiklah sebuah negara, apabila perempuannya rusak maka rusaklah negara tersebut.
Banyak tokoh perempuan Indonesia yang telah membuktikan kepeloporannya sejak zaman kemerdekaan hingga saat ini. Sejak puluhan tahun yang lalu telah berdiri perkumpulan dan organisasi yang mewadahi kiprah para perempuan, bahkan hampir semua organisasi perempuan terbesar Islam di Indonesia memiliki organisasi otonom untuk kaum perempuan seperti muslimat NU, HMIwati atau, Kohati, Aisyiah, perempuan Islam dan sebagainya.
Ajaran Islam telah meletakkan perempuan sederajat dengan kaum lelaki, Islam juga mengatur hak dan kewajiban perempuan secara adil dalam keluarga dan masyarakat. Islam tidak pernah mengikat perempuan yang hanya berada di rumah namun Islam juga tidak membiarkan kaum perempuan menghabiskan waktunya di luar rumah, dan menjadikan keluarga sebagai status belaka.
“Islam menghendaki agar perempuan menjaga keseimbangan antara peran kodrati dalam keluarga, dan peran sosial di tengah masyarakat untuk membina generasi berkualitas dan membangun peradaban di masyarakat,” utara Lukman. Keberadaan perempuan di belahan dunia ini, khususnya di negara-negara muslim, masih ada perempuan masih belum dapat hak-haknya sebagaimana yang diterima laki-laki. Sebab itu, kita harus memperjuangkan hak-hak perempuan tersebut. (mus/dms)