Jepara (Inmas) - MQK 2017 yang diikuti oleh 1456 santri dibuka Menag RI Lukman Hakim Syaifuddin tepat pukul 16.15 WIB pada Jum'at (1/12) di pesantren Roudlatul Mubtadiin Bale Kambang Jepara, Jawa tengah. Seharusnya, Presiden yang semula dijadwalkan akan membuka kegiatan MQK ini, namun berhalangan hadir kemudian digantikan oleh Menag RI.Â
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI Kamaruddin Amin menyampaikan, dalam sambutannya, disamping sebagai even memperlombakan kemampuan membaca, kitab kitab klasik MQK juga sebagai ajang silkaturrahmi sekaligus dalam rangka memupuk komitmen dan merevitalisasi kajian kitab kuning dan pesantren hari ini. Utamanya dikalangan pondok pesantren, sebutnya.
Kamaruddin Amin mengatakan sepakat, bahwa pemahaman keislaman secara mayoritas diperoleh dari kajian kitab kuning. Sejak diinisiasi oleh Said Aqil Munawwar tradisi agung itu terpelihara secara baik dan konsisten hingga saat ini. Bahkan kyai dan para ulama kerap merujuk kepada kitab kitab klasik ini yang lebih dikenal dengan sebutan kitab kuning ini.
Ditambahkannya, MQK kali ini memperlombakan 25 jenis cabang majelis dan lomba debat bahasa arab dan inggris serta eksebisi. Dengan mengacu pada tiga pelombaan pokok dalam MQK yaitu : lomba membaca, menerjemahkan dan memahami kitab kuning.Â
Kegiatan MQK yang diikuti oleh 1456 santri dari 34 provinsi di indonesia, diharapkan mampu mewujudkan pendidikan Islam di Indonesia sebagai destinasi dan alternatif tujuan pendidikan internasional, tandasnya.
"Intinya, pondok pesantren harus mampu mengayomi kebutuhan umat", sebutnya.
Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap perkembangan pondok dari tahun ke tahun dan rangkaian kegiatan MQK Tahun ini, tak hanya kitab kuning namun menariknya juga diperlombakan lomba pidato dan debat bahasa inggris dan bahasa arab.
Tak hanya itu, bahkan ia sangat mengapresiasi cabang lomba debat konstitusi. "Ini menarik, debat konstitusi ini akan memantapkan kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara, sehingga spritual dan kecerdasan secara emotional para santri semakin jauh lebih baik", ujar pejabat berlesung pipi itu.
Hal berbeda diungkapkan Menag RI dalam sambutannya, pondok pesantren merupakan miniatur Indonesia, bisa jadi tanpa pesantren belum tentu NKRI ini ada. "Dengan dikukuhkannya hari santri tanggal 22 Oktober Tahun 2015 akan memperkuat eksistensi pondok hari ini juga kedepannya.
Khazanah dan literatur yang dikaji dalam pondok pesantren dijadikan basis dalam kompetisi ini, sebutnya. Untuk itu sudah seyogyanya pemerintah pusat dan daerah memberi kepedulian lebih dalam membantu pesantren.
Menag menilai MQK merupakan ajang olimpiadenya pondok pesantren, tanpa karakter yang mumpuni negara ini tidak akan maju, maka pondok pesantren sabagai garda terdepan harus terus berbenah, ucap LHS.
"Pesantren bukan milik pesantren itu sendiri tapi milik Indonesia, dari sejak dulu hingga kini", ucap Menag dalam orasinya. Ia menghimbau para stake holder dan pemkab setempat jauh lebih memperhatikan pesantren kedepannya.
Harmonisasi antara lembaga dan pondok pesantren seharusnya jauh lebih intens, tuturnya. Tak lupa Menag menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran presiden jokowi pada pembukaan MQK, dan terima kasih sekaligus apresiasi tinggi kepada Gubernur Jawa Tengah dan Bupati Jepara yang telah memberikan dukungan terhadap suksesnya kegiatan MQK ini.
Hadir pada kesempatan itu Gubernur Jateng, Bupati Jepara, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, pengasuh pondok pesantren BaleKambang KH Muhammad Makmun Abdullah, para Bupati dan Walikota Jawa Tengah beserta jajaran, para Kakanwil Kemenag beserta jajaran, para Dewan Hakim yang dipompin Prof DR Said Aqil Almunawwar, dan santri MQK masing masing wilayah serta ribuan santri dan masyarakat Jawa Tengah khususnya Jepara.(vera)